Deklarasi Sekolah Ramah Anak Detail

Selasa, 12 November 2019


Gampong Ie Masen Ulee Kareng - MIN 5 Banda Aceh yang terletak di Desa Ie Masen Ulee Kareng Menjadi Tempat lokasi dilaksanakannya Acara "Sehari Belajar Di Luar Kelas (Outdoor Classroom Day/OCDAY) dan Deklarasi Sekolah/Madrasah Ramah Anak" Kota Banda Aceh (7/11/2019) di MIN 5 Desa Ie Masen Ulee Kareng Kecamatan Uleekareng Kota Banda Aceh yang dihadiri oleh Kepala Sekolah se Kota Banda Aceh.

SRA (Sekolah Ramah Anak) ditandai dengan penandatangan deklarasi SRA oleh Walikota Kota Banda Aceh yang diwakili Rizal Junaedi, SE. selaku Staf Ahli Keistimewaan, kemasyarakatan dan SDM, dalam pembukaanya walikota mengatakan

“Bahwa Sekolah Ramah Anak sejalan dengan program pemerintah kota Banda Aceh menjadi Kota Layak Anak yang harus kita dukung dan kita kembangkan sehingga terpenuhi hak anak”.

Kegiatan ini juga turut dihadiri Kepala Dinas P3AP2KB dr. Media Yulizar, M.PH, Kepala Kantor Kemenag Banda Aceh Asy’ari M.Si, Kepala MIN 5 Kota Banda Aceh Bakhtiar S.Ag, M.Ag, seluruh kepala madrasah di Banda Aceh,  Majelis guru, komite sekolah dan  orang tua murid beserta siswa.

Dalam kegiatan deklarasi itu, juga dilakukan pengukuhan susunan keanggotaan tim pelaksana SRA untuk tim internal satuan pendidikan di MIN 5 Kota Banda Aceh Kepala Dinas P3AP2KB. Adapun susunan keanggotaan itu yakni ketua Mardiana.

Kegiatan yang dimulai dengan mematikan lampu di ruang kelas madrasah, sarapan pagi, cuci tangan bersama, senam GERMAS, evakuasi bencana gempa serta yel-yel ramah anak adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan pada hari ini, kemudian dilanjutkan dengan program Sehari Belajar Di Luar Kelas (Outdoor Clasroom Day) yang merupakan agenda dalam memperingati Hari Anak Nasional dan Internasional dengan belajar dan bermain permainan tradisional di luar kelas.

 

Komponen Sekolah Ramah Anak (SRA)

Komponen sekolah ramah anak meliputi: 1) Kebijakan SRA; 2) Pendidik dan tenaga kependidikan terlatih hak-hak anak; 3) Pelaksanaan proses belajar yang ramah anak  adanya penerapan disiplin tanpa kekerasan; 4) Sarana dan prasarana yang ramah anak tidak membahayakan anak, dan mencegah anak agar tidak celaka; 5) Partisipasi anak; 6) Partisipasi orang tua, lembaga masyarakat, dunia usaha, Stakeholder lainnya, dan Alumni.

1. Kebijakan SRA

Adanya deklarasi, adanya komitment tertulis, SK  Tim SRA,  program  yang mendukung SRA, Melaporkan kepada dinas terkait (Dinas PPPA/Disdik/Kemenag dan KPPPA), kebijakan tertulis yang mendukung pemenuhan hak anak lainnya, melakukan perjanjian kerjasama dengan lembaga layanan terdekat seperti puskesmas, kepolisian, pemadam kebakaran, lembaga masyarakat, dunia usaha, media massa dll.

2. Guru dan Tenaga KependidikanTerlatih Konvensi Hak Anak

Adanya pelatihan, Adanya Guru dan Tenaga Kependidikan yang mempunyai sertifikat pelatihan, Pelatihan dilaksanakan oleh dinas terkait seperti Dinas PPPA/Disdik/Kanwil Kemenag/Sekolah itu sendiri

3. Proses belajar yang ramak anak

Proses belajar yang ramah anak meliputi: Penerapan disiplin dan ketegasan tanpa merendahkan anak dan kekerasan; adanya komunikasi dua arah, menggunakan bahasa positif dalam berkomunikasi; tidak merendahkan anak; memberikan motivasi belajar; membangun keakraban dengan anak; melihat masing-masing anak sebagai karakter yang unik.

Guru mengingatkan hal-hal terkait pembentukan karakter positif anak, misalnya empati, non diskriminasi, anti radikalisme, cinta negara, bahasa, budaya dan perbedaan budaya menghargai HAM, sosial, cinta kebersihan, anti bullying; adanya proses pembelajaran di luar kelas, misalnya di teras, di halaman sekolah, di sawah dekat sekolah, di museum; melibatkan orang tua dan pihak lain sebagai guru/memberi informasi; guru BK menjadi tempat curhat anak; Kepala sekolah dan wakil jenjang kelas menerima dan menyapa  anak anak yang datang ke sekolah setiap paginya; mengumandangkan Indonesia  Raya dan lagu kebangsaan lainnya; mengubah sistem point yang tadinya iuntuk mengukur kesalahan anak menjadi mengukur kebaikan anak; Perlombaan kelas menyenangkan yang melibatkan secara penuh anak; mengumumkan anak yang mendapat point terbanyak setiap minggu yang dikumpulkan dari informasi yang dikumpulkan setiap harinya dari seluruh anak oleh wali kelas; membuat kelas menjadi seru.

4. Sarana yang memadai 

Sarana yang memadai memastikan anak anak tidak mendapatkan celaka di sekolah yang disebabkan sarana prasarana yang ada dengan cara: adanya papan nama, minimal spanduk Sekolah Ramah Anak; memastikan ruangan cukup cahaya dan sirkulasi udara serta penerangan yang cukup; menumpulkan ujung meja; memberi rambu rambu tempat yang membahayakan (dinding retak/tangga curam dll); menghindarkan tanaman yang berduri atau beracun dari jalur anak berjalan; WC dalam kondisi bersih, ada air mengalir, mempunyai penerangan yang cukup, bak WC dibersihkan seminggu sekali dan diberi ABATE  dan anak anak diajarkan untk menyiram; pintu dibuka keluar, jika pintu di buka ke dalam maka pada waktu proses belajar pintu harus terbuka/agak terbuka; UKS harus dipastikan berfungsi dengan baik; disediakan tempat cuci tangan sesuai kemampuan sekolah; disediakan rambu-rambu untuk pengurangan resiko bencana; adanya spanduk- spanduk untuk mengingatkan kebersihan, kawasan tanpa asap roko, kawasan tanpa napza dll; penataan lingkungan dengan melibatkan warga sekolah dan orang tua; memastikan makanan di kantin tidak mengandung zat berbahaya (kantin sehat/pangan jajan sehat); penataan kelas yang menyenangkan dengan melibatkan anak.

5. Partisipasi anak

Partisipasi anak meliputi: mengkomunikasikan program sekolah dengan melibatkan anak; anak dilibatkan sejak mengisi check list potensi, perencanaan sampai pelaksanaan dan monitoring; anak sebagai pengawal SRA dan "peer educator"

6. Partisipasi Orang Tua, Lembaga Masyarakat, Dunia Usaha, Stakeholder lainnya, dan Alumni

Partisipasi orang tua meliputi: mensosialisasikan SRA kepada sekolah dan mengajak orang tua mendukung SRA; membuat grup komunikasi setiap kelas dengan orang tua murid; melibatkan orang tua dalam penataan lingkungan, melibatkan orang tua dalam pembenahan sarana, misalnya menumpulkan ujung meja, menghias sekolah dll; berjejaring dengan Lembaga masyarakat, dunia usaha; melibatkan alumni dalam proses SRA; orang tua sebagai narasumber di sekolah; melibatkan orang tua dalam menyiapkan sarapan sehat